Nikmati aja kali, ya...

Aku selalu ingat pesan kawanku, "jangan pernah ngeshare apapun kalo hatinya lagi ngga baik, bahaya". Nah, ini benar-benar kulakukan beberapa hari yang lalu, kalut dan ngga tau bagaimana harus mengekspresikan diri. Akhirnya, muncul story Wa yang kalau kubaca ulang, malunya minta ampun. Belum lagi, ternyata menyakiti banyak orang.

Hmmmm, emang ga kebayang kalo apa-apa yang kurasa harus tertulis dan ke post juga. Hancur peradaban, toxic bangat pulaaa. Lalu menyesalinya dengan mentertawakan diri. Ha ha ha

Sore ini, setelah termehek-mehek untuk waktu yang cukup lama dan tidak menutup kemungkinan setelah ini aku bakalan mehek lagi. Penyebabnya sepele, aku ngga tahu harus apa, menyalahkan Arinal, mau makan malas, ngga punya motivasi. Sumpah hopeless bangat, penyesuaian. Tapi, emang dasar kurang kreatif aja kali, ya.

Hmmm, diam-diam aku inget pesan Mammaatje "Biasa aja, jangan lebih, ya, jangan kurang" sambil tersenyum melihat raut wajahku yang hampir saja mbewek. Kangen juga, apalagi sama anaknya.
Sewajarnya aja, kalau ngga wajar gimanaaaa? Padahal aku belum kelar belajar dengan Mammaatje, yang kerap kali meminta aku dan anaknya untuk selalu bahagia. Semoga keluarga baik ini, selalu sehat. Aamiin

Perasaanku saat ini better lah, daripada kemarin-kemarin. Ada banyak yang menguatkan, walau banyak tapinya. Adakalanya, setuju dan berkompromi dengan keadaan saat ini adalah hal paling yaudah, lebih tenang.

Kata "tapi" disini, benar-benar aku pakai untuk pertimbangan. Dan akhirnya, pertimbangan ini, membuatku benar-benar yaudah ini pilihanku. Jelas, banyak hal yang tidak kusuka dan tetap kupeluk erat. Apakah ini yang dinamakan yaudahlah, ya.

Adaptasi selalu, mendampingi Arinal, jauh dari ngobrol asyik bersama Ibund dan Diana, ketawanya gempal, makan masakan enak Kakak, main sama anak-anak, mbambung sendirian, mo apaapa dekat. And now, setiap hari aku masak, bangun pagi, diem aja, ribut sama Arinal, mo apa agak jauh dan ngobrol sama kucing. E tapi, belakangan ini aku punya teman ngobrol, Bapak Ibuk mertua, mba Mila, Ifa, dan temannya Arinal.

Ngga nyangka juga bakal ada di fase ini, merasa tidak memiliki arti apapun dan tetap menjalani hari dengan ha ha hi hi. Jadiii, menikah juga tidak semanis dan segetir itu. Semua yaudah aja gitu, kalau benar-benar menerima dan menikmati. Yaaa, namanya juga nempuh hidup baru. Tapi, apapun itu, terima kasih aku. Sudah bertahan dan senang sejauh ini, mari kita nikmati ke-embuh-an selanjutnya.

Cr. Foto ini diambil di pasar Badung, Bali. Dengan caption, jauhkan hamba dari godaan Arinal yang semakin ngeselin.

Life is embuh, tapi Allah selalu kasih lapang setelah sempit. Hamdalah, sehat selalu yaaa...

Dah ah, besok cerita lagi. Masih banyak hal yang diributkan, tentu lebih menyenangkan.


Komentar

Postingan Populer