Bersama Alena.


Ngga sengaja liat story Alena, lalu kupanggil, agar lipur rasa sedihnya.

Pagi itu, aku mengajaknya bersenang-senang. Alena mengajak temannya, supaya lebih seru katanya, aku mengiyakan.

Percakapan dengan anak-anak selalu menyenangkan, mereka selalu jujur dan apa adanya. Alena ingin sekali masuk sekolah, belajar, bermain dengan teman-temannya, sangu yang tak pernah libur, jajanan favorit di sekolah dan bertemu guru yg ia sukai.

Lagi, mereka anak-anak yang selalu ingin menunjukkan hal yang disukai, menceritakan apa yang baru mereka alami dan mencoba hal-hal baru yang menyenangkan, dan kadang tidak bisa dimengerti orang dewasa.

Aku menyodorkan kertas kosong lengkap dengan pulpennya kepada mereka. Menghibur sebisa mungkin, walau kadang krik krik. Eheeeee

Meminta mereka menuliskan harapan dan cita-citanya adalah pengalihan terbaik hari itu, banyak hal yang tak terduga. Alena menuliskan cita-citanya di atas kertas, dan aku terharu.

Alena ingin menjadi dokter.
Alena ingin membantu mengobati Abah yg sedang sakit.
Alena harus belajar dengan giat.

Alena sudah berfikir sejauh itu, dan diam-diam mulai belajar dari kenyataan yang ada disekitarnya. Memberitahu Alena, mana yang boleh dilakukan, dan mana yang tidak boleh. Aku ingin berperan sebagai temannya hari itu, dengan begitu, aku akan mendapat banyak cerita dari Alena.

Alena, gadis kecil berusia 9 tahun, yang selalu mengalah tiap kali di riweuhin Aeng dan Kakak Hid. Aku belajar banyak dari gadis kecil satu ini.

Menjadi aku hari itu, sudah cukup. Berbagi dengan cara yang menyenangkan, mengaplikasikan ISL yang tempo hari kuikuti. Selain menjadi guru, menjadi teman bagi anak-anak juga buka perkara mudah, harus dilatih dan tulus.

Terima kasih, Alena. Sampai jumpa pada ceritamu selanjutnya, tetap baik dan menyenangkan. Lafyuuu 😘

Komentar

Postingan Populer