Kyai, maafkan kami 💕

Jumat, 13 Syawal 1441 H. Didepan teras rumah, tetiba aku teringat sesuatu.

Hari itu aku dan Paula menjadi santri yang pulangnya paling akhir, lebih tepatnya kami belum dijemput.

Ohya, aku pernah singgah di Pesantren lho gaes. Yaaa, walaupun ngga lama dan ngajinya asal-asalan, tapi insyaAllah mberkahi. Aamiin.

Setelah bersih-bersih halaman pondok, kami berniat hendak pamit di ndalem. Maju mundur, saling dorong, berebut siapa yg dibelakang. Ndilalah, sepertinya Kyai mendengar suara keributan kami. "Sopo iku?" Tanya Kyai, kami segera bergegas untuk menghampiri Kyai, makdeg maktratap. Akhirnya aku yg didepan, sembari mendorong lutut yg tiba-tiba lemas, akhirnya sampailah tepat di hadapan Kyai.

Setelah mengucap salam, Kyai bertanya "Ono paran?" Kami masih takut, dan saling gutit. Sebab, jika pamit pulang, pasti kami tidak diberi izin karena belum ada yg menjemput. "Ini Wak Yai, kami mau pamit. Saya dijemput di rumah adon, dan Ulfi dirumah saudaranya" aku menjawab tidak selancar nulis ini  gaes, sungguh terbata-bata kala itu. Kyai hanya diam memandangi kami, seperti memastikan ada orang atau tidak di Ndalem, Kyai meminta kami untuk membeli minuman penambah stamina *Hemavi***. 
Tidak lekas bergegas, kami malah saling pandang satu sama lain.

Kyai sedang tidak begitu sehat, di usianya yg sudah sepuh, kurasa sudah tidak perlu meminum penambah stamina yg Kyai minta. Tapi yaa, karena ternyata Kyai sudah terbiasa mengonsumsinya. Tapi setahu kami, sejak Kyai singgah di ndalem timur, Kyai sudah tidak mengonsumsi minuman tersebut. Dengan rasa gugup "Enggeh" dan kami pergi meninggalkan Kyai.

Setelah keluar dari ndalem, kami bertemu Ustad dan putri Kyai "mau kemana woh?" Aku langsung menjawab "anu yaa mbaa, hmm. Kami diminta beli *hemavi***" sepertinya si Mbaa juga tidak setuju kami membeli itu. Makin bingung kami, tapi akhirnya, kami pergi membeli. Keliling-keliling warung, kok ndilalah ki susah banget. Pas di warung ke 5 yg kami kunjungi, kok yaa ada . Hmmm

Sesampainya, di gerbang asrama sudah ada Mba menunggu kami. "Woh, sembunyiin, bilang aja ngga ada" kami saling tatap dan lagi-lagi, makdeg maktratap. Masuklah kami, kedalam kamar Kyai.

"Kelendi, ono?" Tanya beliau. Kami hanya tertunduk, takut ya gimana yaa, wes, mbuh wes nano-nano rasanya. " ngga ada Wak, warung-warung badean ngga ada yg jual, habis katanya" jawabku.
Suasana mencekam, sembari duduk beliau menuding ke arah kami dengan nada tinggi " Kadzab! Ngapusan!" Kami hanya menunduk sembari menangis.

Aku belum pernah kena marah Kyai, ya baru kala itu. Perasaanku rasanya, kenapa harus bohong, tapi ya demi kesehatan beliau juga. Kyai orang tersabar yg pernah kutemui dan Kyai harus hidup sehat, sebab masih banyak yg harus kami pelajari dari Kyai. someday aku ceritakan tentang Kyai.

Setelah marah kepada kami, Mbaa masuk kedalam sembari menangis juga "Pak, usaha kami membiasakan hidup sehat untuk Bapak sia-sia, kalau bapak masih mengonsumsi  minuman itu"

Suasana hening, lama sekali. Kami masih bersimpu sebari sesenggukan. Lalu "Iyo wes, kelendi, ono paran merene mau?" Kyai memecah keheningan dan bertanya (lagi) kepada kami. Kali ini Paula yg menjawab "niki, bade pamit wangsul Kyai". Setelah akhirnya beliau mengiyakan dan memberi kami sangu.

Sungguh, sampai saat ini kalau inget tuu. Ya ampun, aku pernah dipisuhi Kyai 😭😭😭
Tapi berkahnya, Luar Biasa. Benar, jika kita ikhlas, insyaAllah, kebaikan lain pasti datang bertubi-tubi.

*Berbohong demi kebaikan kala itu sangat kami butuhkan. Lagi, demi kesehatan beliau dan doa panjang agar beliau di beri umur yg barokah.


Penggalan cerita bersama beliau, dan botol *hemav*** yg masih tersimpan di gudang ndalem.

(Ndalem: rumah Kyai)

Semoga keberkahan beliau dan doa panjangnya senantiasa membersamai kita. Terima kasih Kyai, Khususan ilaa ruhi Almarhum Almaghfurlah KH. Hasan Dailami Ahmad. Alfatihah...



Hamdalah, Kyai, matahari masih terbit dari timur. Kyai pernah berpesan, "Usahakan, puasa syawal, 6 hari saja, mohon keridhoanNya"

Semoga kerinduan ini lekas berujung temu, Ibuk.

Komentar

Postingan Populer