Kisah yg tak berujung.



Pagi itu, cerah sekali. Matahari memancarkan cahaya tepat pada tanaman-tanaman yg masih berembun, juga menembus sudut ruang kamar Una melalui celah jendela.

Una sudah bangun sedari adzan shubuh, bukan adzan yg membangunkannya, apalagi alarm. Perutnya selalu sakit saat menjelang shubuh, dengan tergopoh setelah meneguk air sisa semalam Una segera menuju toilet. Rasanya hampir 30 menit, lalu Una melakukan kebiasaannya, ia menyebutnya semadi. Jika tidak mengantuk, Una mampu bersemadi hingga menjelang matahari terbit. Una berharap, dengan semadi ia bisa menjadi lebih tenang dalam hidupnya. 

Una tertegun memandangi tanamannya, sembari menyapa tanaman yg semakin tumbuh subur. Ia pun berbicara dan memberikan senyuman tulus kepada tanamannya. Una berharap, tanamannya akan selalu tumbuh dengan baik. Merawat tanaman yg mulai ia tanam sejak 3 bulan lalu, ia mulai jatuh cinta kepada tanamannya dan selalu ingin memamerkan di media sosialnya. Sebab yg Una tahu, seseorang akan memberitahukan apapun yg ia sukai. Begitupun dengan Una, hanya saja tidak semua hal harus diketahui orang banyak.

Setelah melakukan semua pekerjaan rumah, Una memandangi sebuah foto tahun lalu bersama seseorang yg ia sukai, Una memanggilnya Inay. Lalu bergegas mengambil kertas dan pensil, dan berniat menggambar foto itu. Una suka menggambar, tapi tidak sering ia lakukan. Una menggambar dengan penuh suka, sesekali ia tersenyum, kadang juga memeluk hasil gambarnya. Una tidak ingin laki-laki yg disukai tahu bahwa ia menggambar foto mereka, Una sangat senang melihat gambar yg sudah ia selesaikan. Lalu ia memajang gambar itu diatas tumpukkan buku miliknya.

Una sangat menyukainya, dan tidak ingin mengungkapkan lagi. Sebab Una tahu, jika ia mengatakan, maka semua sudah selesai. Menyimpan rasanya bertahun-tahun, menantikan dan bahkan Una memaksa Tuhan untuk menjaga cintanya. Una selalu senang jika membicarakan tentang laki-laki yg ia sukai kepada Tuhannya, seperti berdialog tanpa mau tahu apa yg sudah ditakdirkan oleh Tuhannya. 

Tiba-tiba, laki-laki itu ingin bertemu dengannya. Lagi, selain tanaman, Una juga dibuat senyum semringah oleh pesan yg ia terima. Malam itu, tak ada keraguan diantara mereka, Una menatapnya lamat-lamat. Tak berani menatap lebih lama lagi, ia pun memilih menunduk ketika laki-laki itu menatapnya kembali. Betapa Tuhan baik sekali, dan mengabulkan doanya malam itu.

Ternyata, itu pertemuan terakhirnya. Una sudah tidak pernah bertemu dengannya, komunikasinya pun tidak begitu baik. Tapi, Una punya pilihan berbeda. Ia tidak berusaha melupakannya, ia semakin rajin merayu Tuhannya, ia bertahan. Ah, Una. Payah sekali kau.

Una tetap menjalani kehidupannya dengan baik, sedikit usaha dan banyak mau. Ia mendengar kabar tentang seseorang yg ditunggu-tunggu dari kawannya, mengejutkan. Sore itu, Una hanya melamun dimeja kerjanya. Lagu-lagu mellow, seperti lagunya Kodaline - All I Want yg semakin membuat hatinya terkoyak-koyak, menangis sesenggukan dan rasanya ingin sekali pergi nan jauh. Una benar-benar menikmati kesedihannya, tanpa ingin tahu, apakah benar laki-laki yg ia sukai akan pergi meninggalkan dan tak memilihnya.

Hari semakin cepat berlalu, pun sedihnya. Una sosok yg ceria, kadang diam, kadang memiliki empati yg sangat tinggi, kadang juga tak peduli apa yg orang lain lakukan. Doanya masih tetap sama, untuk kebaikan laki-laki itu. Mengulang-ulang doanya, seperti candu, kadang ia rindu sekali, tapi kadang ia tak mau tahu tentang perasaannya. Una tak kehilangan arah, doa yg tetap, bukan berarti ia tidak menerima yg terbaik dari Tuhannya.

Akhirnya, Una tidak pernah tahu ujung dari kisahnya dengan lelaki itu. Yg Una tahu, tak ada paksaan dalam mencintai, semua alasan terasa dapat diterima dalam akal.

Hidup memang bukan tentang senang saja, sesekali lara juga perlu dinikmati. Sebab Tuhan selalu bisa menyembuhkan segala lara, dan selalu memiliki kebaikan untuknya.

*ikhlas

Komentar

Postingan Populer