Serba-serbi

Hallo teman-teman, bagaimana ibadah ramadannya? Semoga lancar dan semoga kalian senantiasa sehat.


Pagi ini kami di haruskan kesekolah, untuk mengerjakan beberapa tugas yg katanya sebagai bukti bahwa pembelajaran tetap berjalan walau dalam masa pandemi ini. Semoga, guru dan muridnya sama-sama tabah dan tetap sehat (tidak stress). Wkwkwk

Dikantor kami berkumpul, namun sedikit berjarak dan tetap mengenakan masker. Suasana riuh, saling menggoda, dan ada yg diam saja, saya. Percaya kan? Tentu tidak, ternyata dengan diam saja saya dapat banyak informasi. Betapa tidak, diam-diam kuping ini mendengarkan percakapan yg silih berganti topiknya. Ada yang menarik, "alhamdulillah, rezeki si kecil buk"
Salah satu teman mengajar saya ada yg baru saja menjadi ayah, terlihat semringah dan bahagia. Ya tentu dong, sebab, selain istrinya ada seorang anak yg selalu menunggunya pulang dan tentu juga membawa buah tangan serta cerita yg indah.

Beliau bercerita banyak kepada perempuan yg kupanggil "Bunda, istrinya Pak Joko", kebetulan saya duduk didekatnya. Beliau menceritakan proses persalinan yg hamdalah mudah, dan rezeki si anak yg tak terduga. Ini kabar senang, dan saya senang sekali mendengarnya. Saya ikut baper dengar ceritanya, beliau baru menikah dan cepat dikaruniai anak, senangnya terlihat, sedihnya tentuuu tidak. Nah ini bagus. Wkwkwk

Setelah si bapak baru selesai cerita, kini giliran bunda yg bercerita. Bundaa menikah sudah lama dengan Pak Joko, tapi dengan tabah beliau menerima kenyataan bahwa ada atau tidak seorang anak, mereka tetap saling mencintai. Saya selalu senang mendengar cerita mereka, mengesankan. Luar biasa.

Banyak sekali, teman-teman dekat yg menceritakan kehidupannya pasca menikah. Beberapa ada menjadi inspirasi dan ada juga yg menjadi pelajaran sebelum saya menuju, Pernikahan. Hebatnya, saya selalu menskip cerita-cerita yg tak sedap (bercerai, bertengkar tapi tetap bertahan, tidak bisa mencintai dirisendiri, pembatasan dan hal ga enak lainnya), padahal itu bakal saya alami kelak. Eh, emang kamu bakal nikah?

Hmm, sayang kubelum tuntas baca buku milik Mbak Amanatia Junda yg judulnya "waktu untuk tidak menikah". Sebab salah satu kawanku bilang "jangan baca buku ini, jika suasana hatimu sedang baik" nah, buku yg sekarang sedang menginap ini, sepertinya harus segera saya baca.

Barangkali, sebuah cerita lainnya bisa mempengaruhi saya untuk segera memutuskan. Memutuskan, menikah secepatnya atau menikah dengan hati yg cukup tenang dan sudah menerima segalanya (sampai waktu yg tidak ditentukan).

Sampai detik ini, sembari rebahan, kadang ngintip buku, kadang sembari menulis, kadang juga melirik Spongebob yg tidak sengaja kuabaikan dan kadang sembari kangen. Sungguh, saya belum siap menikah, tapi ngga tau besok. Wallohu a'lam.
Sebab menurut saya, menikah adalah hal yg tidak bisa disepelekan. Harus ada kesukaan apapun keadaannya, bukan begitu?

Komunikasiku belum baik kepada siapapun, kecuali dengan Tuhan dan bobku yg unyu-unyu. Alias ngomong sendiri. Wkwkwk

Terlepas dari menikah atau tidak, saya harus tetap hidup dan mencintai semua ketidaksukaan ini bukan? Sebab, bagi perempuan, cinta adalah harapan, bahkan hidup adalah cinta, sehingga perempuan bersedia berkorban demi cintanya. Begitu kata penulis favoritku dan itu berlaku untukku.

Saya bucin, tapi cemen 😭😭😭. Cinta dalam diam, membuat gebetanku di embat yang lain. Wkwkwkwk

Baik, tulisan ini saya tulis sebelum menikah, jadi hanya sebuah opini biar ga mara-mara di medsos. Dan terima kasih untuk pernyataan "ndang rabi wes" , membuat saya semakin mantap menjawab "after covid, i will get married"
Sekarang saatnya untuk belajar, memperbaiki dan memantaskan. Tentunya, menambah kecintaan terhadap diri sendiri. Lafyuu Woh 😘

Please, jangan egois. Saling jaga dan sehat selalu.


Jangan sedih-sedih yaa, sendiri bukanlah akhir dari segalanya. Besok, pasti ada temu.

Komentar

Postingan Populer