Panggil saja, Amal.

pagi ini sangat cerah, mentari dari ufuk timur menyemburkah cahaya disetiap sudut ruang kamar. Perjalanan pun terasa menyenangkan, sebab, saya merasa bersinar setiap kali bercermin dispion sebelah kiri, terlihat semakin cerah saja wajah ini. Itulah alasan, kenapa saya suka sekali berangkat ke sekolah lebih awal, selain udara yang segar, sawah yang terbentang luas, petani yang ramah, mentari yang indah, saya juga bisa melihat senyumnya mas-mas yang setiap kai berpapasan di pertigaan antara Karang anyar menuju Badean. Eh, ini bukan cerita tentang saya. Tapi tentang Fahrina Amalia.

Fahrina Amalia, gadis berusia 16 tahun ini, adalah salah satu siswi disekolah tempat saya mengabdi. Panggil saja, Amal. Amal tidak memiliki catatan buruk selama sekolah, dia cenderung menjadi siswi yang patuh kepada guru. Hampir setiap pagi datangnya selalu terlambat, jarak rumahnya lumayan jauh dan alasannya tepat "kendaraannya dipakai ibuk saya, buk" ucapnya sembari terengah-engah karena takut terlambat masuk kedalam kelas.

Amal cukup pendiam, tapi tidak menutup diri ketika teman-tamannya hendak mengajaknya mengobrol. Setiap pergantian jam ke 3-4, Amal selalu menyempatkan diri menyapu taman yang di lombakan beberapa bulan lalu. Walaupun kalah, Amal tetap merawatnya dengan baik. Saya memang memiliki cita-cita membuat taman baca ditaman ini, oh iya, saya adalah Wali Kelas XI Ips. Sejak taman itu difungsikan untuk tempat cangruk anak-anak, saya menyegerakan cita-cita itu, dan Amal adalah salah satu pendukung setia saya.

Sejak taman baca itu di launching Kepala Madrasah, Amal semakin sering datang ketaman. Membersihkan taman dan menata buku, kadang dia juga datang ketaman hanya untuk melarikan diri dari teman-temannya yang selalu usil.

Pagi ini, kudapati Amal sedang menyeka ujung matanya sembari melempar senyum manisnya kepadaku. Saya hampiri, dan segera menuju taman.
"Kamu kenapa Mal? Sudah sarapan? Atau sedang putus cinta?" Tanyaku, "mboten nopo-nopo buk" jawabnya, saya tidak melanjutkan percakapan, khawatir perasaannya semakin sedih. Kalian tahu yang Amal lakukan? Ya, dia langsung memegang sapu tanpa berbicara apapun. Saya terkadang kagum dengan kegigihannya yang pandai menyimpan rasa kecewa dalam hatinya, selesai menyapu, Amal pamit masuk kelas. Kami berbagi tugas, aku mengetik perlengkapan taman, Amal menata buku.

Gawai ini bunyi mendesak sekali "Buk, Amal menangis. Dia pamit pulang, dan diganggu oleh teman-teman dikelas" pesan dari Ida, teman sebangkunya. Saya segera bergegas, benar saja, Amal sudah pulang dengan perasaan yang teramat sedih. Saya merasa bersalah, tapi saya sedikit tenang. Sebab Amal pasti punya jalan keluar, untuk segera senang kembali.

Amal, adalah salah satu siswi saya yang tidak pernah menolak ajakan saya, apapun itu. Terima kasih Amal, sampai jumpa besok dikelas.


Segera pulih, gadis manis.


Saya, mengagumimu diam-diam.
Tertanda, Uwoh.

Komentar

Postingan Populer