Merayakan Oktober

Sore itu hujan deras, petir begitu keras kilat juga tak kalah kuat menyemburkan cahayanya dikaca jendela yang sudah usang.

Hari ini, aku harus meneruskan perjalanan Silaturahmi. Tujuan utama bertamu dirumah Guru ngajiku, sayangnya, kabar begitu terlambat kudengar. Beliau sudah wafat dua tahun lalu, namanya Teh Yati. Memilih menjadi Guru ngaji di Surau dan tidak menikah. Beliau orang baik. Alfatihah.

Aku datang dengan senyum yang jegigis dan riang, umpama seperti putri yang baru saja datang dari perjalanan nun jauh sekali. Ya, dirindu dan masih dicintai. Tepat ku parkirkan motorku didepan teras rumah Citra, perkenalkan. Citra adalah teman main sekaligus saudara yang tidak pernah berubah menghadapiku, cerita-cerita lampau hingga saat ini habis kami ceritakan kala menunggu hujan reda. Yaa, hujan. Setelah 4 hari di Bogor aku baru mendapati hujan, sebab selain saudara-saudaraku, hujan di Bogor juga kurindu. Entah apa sebabnya, bisa jadi teringat anak kecil yang telanjang dada sambil main air hujan bersama teman-temannya.

Selain Citra, ibuk dan tetanggaku dulu, sempat kutemui. Peluk cium yang hangat kudapatkan dengan penuh decak kagum, ya aku sudah sebesar ini. Sedang terakhir bertemu aku masih suka lari-lari di depan rumah mereka, riuh bersama teman-teman, hingga ada hujan dari ember. Wkwkwk

Hujan diluar sudah agak reda rupanya, aku dan Citra berkunjung kerumah salah satu Guru MI kami. Bu Ubad namanya, beliau guru kelasku. Masih sama dan tetap cantik seperti 12 tahun lalu. Beliau tidak mengenaliku, ketika kukecup tangannya yang penuh jasa itu barulah Citra memberitahu "ini Duroh, Buk"
Beliau masih tertegun memandangiku, aku memeluknya. Beliau merinding, dan masih tidak percaya bahwa ini aku. Dalam ingatan beliau aku adalah muridnya yang menyerupai laki-laki, suka main. Seperti ingin menangis, tapi aku bahagia sekali. Situasi yang sangat embuh kala itu.
Kami dipersilahkan masuk, dan diberi berbagai jamuan tentunya cerita-cerita menarik. Beliau masih belum menyangka yang dihadapannya adalah aku, iya Durrotun Nasihah yang sukanya main bola dan mengejar layangan. Kami saling menceritakan proses hidup kami, tibalah pada pertanyaan "Duroh sibuk apa sekarang?" Citra menjawab dengan cepat "Bu Guru dia sekarang, Buk" aku senyum-senyum malu.
Beliau mengucap syukur, sebab akhirnya ada juga yang menjadi Guru. Lebih-lebih adalah aku, yang notabene bukan Siswanya yang pintar. Begitulah kiranya, dulu aku pemalas, sekarang juga. Wkwkwk

"Ada hikmahNya kamu pulang ke Jawa, Ibuk senang lihat kamu" ucap beliau.
Kami pamit pulang, dan sangat disayangkan sesingkat itu pertemuan kami. Terima kasih, Buk. Terima Kasih, untuk tetap sehat.

Untuk Citra, Selamat. Benar, persaudaraan tak akan putus sebab doa senantiasa terpanjat.

Note : Sempat kesal mengapa turun hujan diwaktu yang tidak tepat bagiku, eh ternyata disana sudah tiga bulan tidak turun hujan. Aku tetap kesal, sebab tak banyak yang kukunjungi, maaf.

Terima kasih, atas rindu dan doanya buk.

Cibinong, 08 Oktober 2019.


Komentar

Postingan Populer